Petikan Salafi

"Demi Allah, kita berperang bukan berdasarkan bilangan, kekuatan atau Jumlah, kita berperang untuk memuliakan Agama yang telah dimuliakan Allah ini" Abdullah Ibn Rawahah r.a.


"Demi Allah! Debu yang berada di hidung kuda para sahabat nabi s.a.w yang berjuang bersama Nabi s.a.w lebih mulia dari kebanyakan sultan atau raja yang ada dalam dunia ini." Dr. Asri

"Demi Allah! Aku tolak Syiah; bukan dengan tangan tetapi dengan kaki" Harimau Menaip.



Ahlussunah Wal Jama'ah

Dari Ibnu Umar ra berkata: Rasulullah saw memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar ra berkata, “Jika kamu berada di petang hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu petang, manfaatkanlah masa sihat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap ghurabaa(dagang/asing) dan akan datang kembali ghurabaa(dagang/asing) maka berbahagialah orang-orang asing itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing itu?” Lalu Rasulullah menjawab, “Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan kerosakan.” (HR. Muslim)

Dan dalam riwayat lain, "Sesungguhnya baginda ditanya perihal orang-orang yang asing itu, lalu baginda menjawab, "Iaitu orang-orang yang menghidupkan-hidupkan apa yang telah dimatikan manusia dari sunnahku" (HR Muslim, Ibnu Majah, dan at-Thabrani)

Dalam riwayat lain dari Ibnu Wahbin, "Baginda saw. bersabda, "Kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing, iaitu mereka yang berpegang teguh pada kitab Allah ketika ditinggalkan oleh orang banyak dan mengerjakan sunnah ketika dipadamkan oleh orang banyak"

Pemuda-Pemudi Harimau

16.10.11

Kesesatan Sufi: Berdasarkan Nasihat Imam Mazhab

Update: Ada yang mencemuh aku dan kata aku jahil. Jika kalian baca betul-betul, aku ajukan soalan dan pertanyaan. Orang jahil memang kena bertanya. Aku bukannya lulusan Jordan atau Syria. Aku tidak berserban Besar dan aku tidak berjoget ketika berzikir. Tidak pula aku pernah mendengar cikgu aku atau ustaz yang aku sering dengari kuliahnya atau buku- buku yang aku baca menceritakan FADHILAT ZIKIR SAMBIL MENARI? Kalau kalian ada, dedahkan.


Ada pula yang kata "Sufism basically is the Inner Dimension of Islam". Siapa kata tu? Al Quran? Rasulullah SAW? Sahabah Radiallahuanhum Ajmain?


Bagi aku, isunya mudah. tak kiralah serban kalian tinggi sampai cecah langit, ijazah kalian sampai tujuh lapan macam; selagi hujah kalian tanpa nas/dalil dari Qalamullah atau Al-Sunnah, ia akan dianggap IRRELEVANT.


Aku bukan mencari musuh..Demi Allah. Aku mencari kebenaran. Aku yakin apa yang aku tulis tidak salah dan sanggup menangung dan menjawabnya di depan Allah Azza wa Jal.


Wallahua'lam.

(nota kepala ini akan aku titip diatas setiap posting aku berkaitan Sufisme)



____________________________________________________________


posting asal:

Siapa Abdullah Bin Saba' dan Nasihat Imam-Imam Mazhab

Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari San’a, Yaman. Dia datang ke Madinah sewaktu pemerintahan Khalifah Uthman bin Affan r.a. dengan berpura-pura sebagai seorang yang alim. Dialah juga perancang terhadap pembunuhan Khalifah Uthman Ibn Affan dan membangkitkan hura-hara dalam kalangan para sahabah Radiallahuanhum Ajmain.

Munafiqun ini jua yang dikatakan mengasas fahaman Syiah dan Sufi. Malang sekali apabila ada seorang blogger (warikh den lak tu) yang berbakat dari kacamata aku tetapi meletakkan "menyukai apa sahaja perkara berkaitan sufisme". Aku berdoa, dia ada hujah dan sebab kukuh dan bukan ikut-ikutan yang bukan-bukan. Namun, aku tahu dia tak mungkin ada hujah kukuh.

Abdur  Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus  Shufi  fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara  tepat siapa  yang  pertama kali menjadi sufi di kalangan  ummat  Islam. Imam  Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami  ting­galkan  kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran  yang  tidak percaya kepada Tuhan,  berasal  dari  Persia; orang  yang  menyelundup ke dalam Islam,  berpura-pura  –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu  yang  baru yang mereka namakan assama’  (nyanyian).
Kaum  zindiq  yang dimaksud Imam Syafi’i  adalah  orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian  yang mereka  dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam  Syafi’i  masuk Mesir tahun 199H.

Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal  sebelum  itu. Alasannya, Imam Syafi’i  sering  berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:
“Seandainya  seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka  siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”
Dia  (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu  akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis  Iblis, hal 371).

Semua  ini,  menurut Abdur Rahman Abdul  Khaliq,  menunjukkan bahwa  sebelum berakhirnya  abad kedua  Hijriyah  terdapat  satu kelompok  yang  di kalangan ulama Islam  dikenal  dengan  sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan sebutan mutashawwi­fah (kaum sufi).
Imam Ahmad (780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi’i  (767-820M),  dan pada mulanya berguru kepada Imam  Syafi’i.  Perkataan Imam  Ahmad tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu  yang berada dalam lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di  antara­nya  ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa  ten­tang  perkataan  Al-Harits  Al-Muhasibi  (tokoh  sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Aku  nasihatkan  kepadamu,  janganlah  duduk  bersama  mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)”.
Imam  Ahmad  memberi nasihat seperti itu karena  beliau  telah melihat  majlis  Al-Harits  Al-Muhasibi. Dalam  majlis  itu  para peserta  duduk dan menangis –menurut mereka–  untuk  mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat. (Perlu kita  cermati,  kini ada kalangan-kalangan muda  yang mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan muhasabatun  nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang  mereka sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang meraung-raung. Apakah  perbuatan mereka itu  ada  dalam   sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).
Abad III H Sufi mulai berani, semua tokohnya dari Parsi (Iran).

Tampaknya, Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu`anhu mengucapkan perkataan tersebut pada awal abad ketiga Hijriyah. Namun  sebelum abad  ketiga  berakhir, tasawuf telah muncul dalam  hakikat  yang sebenarnya,  kemudian tersebar luas di tengah-tengah  umat,  dan kaum sufi telah berani mengatakan sesuatu yang sebelumnya  mereka sembunyikan.

Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal  perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan  keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat  agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian  menjadi  pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.
Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah  dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain  bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan pengua­sa,  yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu  dengan  dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan  bahwa  dia telah kafir dan harus dibunuh.

Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin  Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian,  sufisme tetap  menyebar  di negeri Parsi, bahkan kemudian  berkembang  di Iraq (sumber)

3 komen:

melayuangkat said...

Salam anak cyberku,

Alhamdulillah syukur Mak Cik telah diizinkan Allah mengikuti dua penggal pengajian Sufism di U. Amat menarik sekali. Memang Sufism tak mudah disimpulkan. Sufism basically is the Inner Dimension of Islam. Sudah tentu sekali, basis Sufism atau Tasawuf sepatutnya adalah Syariat Islam itu sendiri dan mereka beramal dengan penuh kyusuk, dedikasi sepenuhnya dengan pegangan Islam.

Siapakah ahli Sufi. Perkataan Sufi itu dari Suf..disini juga banyak pendapat tentang perkataan Suf yang sukar dibincang diruangan terhad ini..

Kesimpulannya: Pada asalnya orang Sufi sebenar beramal dengan iktikad menghampiri diri pada Allah dengan mengikut ajaran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Tetapi semakin zaman berlalu dan dimasukkan dengan berbagai faktor dsb ramai pula yang mengambil kesempatan untuk kepenting diri atas nama Sufism kononnya.

Ahli Sufi menangis tiap kali berzikir kerana setitik air mata kita bila bertahjud diampuni dosa kita dan dijauhi neraka..mereka mahu mencapai makam yang baik disisi Allah.

Tapi biasalah kerana nila setitik habis rosak susu sebelanga..WaAllahuAlam. Topik Sufism menyentuh kalbu kita betapa kita perlu banyak mahasabah diri dan terlalu sedikit amal dan daya kita (mak cik) untuk mencapai makam ini tetapi InsyaAllah akan terus berusaha dan berusaha. Doa doakanlah..

Anonymous said...

Bila aku baca posting ini aku rasa keliru....apa tujuan asal posting ini....adakah ia cuba menyatakan bahawa semua sufi itu "sesat"...atau adakah org yg tidak kenal sufi itu yang 'sesat'....sedangkan sudah jelas dan nyata byk yg bukan dari golongan sufi itu sendiri pun sesat....Maha Suci ALLAH...hanya dgn ilmuNYA saja aku dapat mengenaliNYA...

Harimau-Menaip said...

Waalaikumussalam ibu.Saya sentiasa berdoa agar umat Islam mengikut Al-Quran dan Al-Sunnah.

Anonymous,

Sesat dari sudut pandangan Imam terdahulu dan Majlis Fatwa Kebangsaan.